PERADABAN ISLAM PADA MASA KHALIFAH UTSMAN BIN AFFAN
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG MASALAH
Setelah Nabi Muhammad saw. wafat keberlangsungan agama Islam
dipegang oleh para sahabat Nabi saw. sahabat nabi yang mendapat tugas amanah
yang besar itu disebut Khulafaur Rasyidin. Khulafaur Rasyidin ini adalah empat
sahabat terdekat nabi yaitu Abu Bakar As-Shiddiq, Umar Bin Khattab, Utsman Bin
Affan, Ali Bin Abi Thalib. Mereka ini adalah yang menggantikan kepemimpinan
nabi dan juga mengurus masalah keagamaan umat islam pada masa itu.
Dalam konteks peradaban, Islam menampilkan peradaban baru
yang esensinya berbeda dengan peradaban sebelumnya. Peradaban yang ditinggalkan
Nabi misalnya, jelas sangat berbeda dengan peradaban Arab di zaman Jahiliyyah.
Dengan demikian, Islam telah melahirkan revolusi kebudayaan dan perdaban.
Misalnya, pembukuan al-Quran yang dinamakan Mushaf ‘Utsmani pada zaman Khalifah
Utsman Bin Affan, yang telah digunakan sebagai pegangan bagi umat sampai saat
sekarang ini, sehingga segala perbedaan yang timbul dalam soal qira’at dan lain-lain dapat dikendalikan.
Makalah ini ditulis oleh penulis untuk menjelaskan
tentang latar belakang pengangkatan Khalifah Utsman Bin Affan dan bagaimana
peradaban islam pada masa itu.
B. RUMUSAN
MASALAH
1.
Bagaimana proses pengangkatan Utsman
Bin Affan menjadi Khalifah?
2.
Bagaimana peradaban islam pada masa
Utsman Bin Affan ?
3.
Apa faktor- faktor yang menimbulkan
terjadinya Fitnah Al-Kubra ?
C. TUJUAN
PENULISAN MAKALAH
1.
Untuk mengetahui bagaimana proses
pengangkatan Utsman Bin Affan menjadi Khalifah
2.
Untuk mengetahui sejarah peradaban
islam pada masa Utsman Bin Affan
3. Untuk
mengetahui faktor- faktor yang menyebabkan timbulnya Fitnah Al-Kubra
D. METODE
PENULISAN MAKALAH
Metode penulisan dalam pembuatan makalah
ini yaitu dengan mempelajari dan mengumpulkan data dari pustaka yang
berhubungan dengan pembahasan materi, baik berupa buku maupun informasi dari internet.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Biografi Utsman Bin Affan
Nama asli beliau adalah Utsman Bin Affan bin Umayyah bin
Abdu Syams bin Abdi Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luai
bin Ghalib Al-Quraisy Al-Umawi Al-Makki Al-Madani. Nasabnya bertemu Nabi pada
kakek yang keempat, yaitu Abdu Manaf.
Utsman Bin Affan lahir enam tahun setelah Tahun Gajah,
tepatnya pada 47 S.H. Usianya enam tahun lebih muda daripada Rasulullah saw. Ia
dilahirkan di Taif, daerah yang paling subur di kawasan Hijaz.
Ia memeluk agama Islam karena ajakan Abu
Bakar, dan menjadi salah seorang sahabat dekat Nabi saw. Ia sangat kaya tetapi
berlaku sederhana, dan sebagian harta kekayaannya digunakan untuk kepentingan
Islam.
Sepanjang hayatnya Utsman banyak mengikuti
peperangan bersama kaum muslim, kecuali Perang Badar. Saat itu, ia tidak ikut
berperang karena harus merawat istrinya Ruqayyah yang sedang sakit. Sepulang
dari Perang Badar, Rasulullah saw. mendapati putrinya telah wafat. Untuk
menghibur Utsman, beliau menikahkannya kepada putri yang lain, Ummu Kulsum.
Karena kedua pernikahan itulah Utsman mendapat julukan “Dzunnurain” yang
artinya pemilik dua cahaya. Dialah satu-satunya sahabat yang menikah dengan dua
putri Nabi.
B. Sifat- sifat Utsman Bin Affan
Nabi saw menjelaskan
sifat- sifat Utsman Bin Affan di dalam haditsnya “Umatku yang benar- benar
pemalu adalah Utsman “. Utsman memiliki sifat malu yang luar biasa dan rasa
malu ini bertambah ketika bertemu dengan orang lain. Karena teramat pemalu,
bahkan malaikat pun merasa malu kepada
Utsman bin Affan.
Aisyah menceritakan bahwa suatu hari Rasulullah sedang berbaring di rumah. Saat
itu kaki beliau tersingkap. Tiba- tiba Abu Bakar datang, dan beliau tetap
berbicara dalam keadaan seperti itu. Selanjutnya Umar datang, dan beliau tetap
berbicara dalam keadaan seperti itu. setelah itu Utsman datang. Tiba- tiba
Rasulullah duduk dan membenarkan pakaiannya. Utsman masuk dan ikut
berbincang-bincang dengan mereka. Setelah keluar, Aisyah berkata kepada
Rasulullah, “ketika Abu Bakar masuk, engkau tidak membenarkan pakaianmu.
Setelah itu Umar masuk, tetapi engkau bergeming. Tetapi ketika Utsman masuk,
engkau duduk dan membenarkan pakaianmu. Rasulullah bersabda, “Tidakkah aku malu
pada orang yang malaikat pun malu kepadanya?!”
Abdul Wahab an- Najar
menyebutkan sifat- sifat Utsman sebagai berikut: “Adapun usman adalah
mulia sifatnya, dermawan, menyerahkan hartanya untuk taat kepada Allah ‘azza wa
jalla, tinggi agamanya sampai Utsman menyerahkan 10 persen dari hartanya yang
tidak dilakukan oleh orang lain. Utsman juga mempersiapkan tentara dengan 1000
unta dan 500 kuda. Selain sifat di atas Utsman juga terkenal dengan sangat
lunak, pemaaf, murah hati, percaya, tangguh, mudah tersentuh hatinya.”
C. Pengangkatan Utsman bin Affan
menjadi Khalifah
Sebelum khalifah Umar
Bin Khattab wafat, ia membentuk dewan yang beranggotakan enam orang sahabat
yang saat itu dianggap paling tinggi tingkatannya, yang bertugas memilih salah
seorang di antara mereka untuk menjadi khalifah yang kelak menjadi
penggantinya. Keenam anggota dewan itu adalah Utsman bin Affan, Ali bin Abi
Thalib, Talhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdurrohman bin Auf, Ibnu
Umar, dan Sa’ad bin Abi Waqqas. Ketua dewan dipegang oleh Abdurrohman bin Auf.
Setelah dimusyawarahkan
di rumah Abduurrohman bin Auf, akhirnya mayoritas suara memilih Utsman bin
Affan sebagai khalifah pengganti Umar bin Khattab. Utsman bin Affan dilantik
menjadi khalifah pada hari ketiga setelah wafatnya Umar bin Khattab.
D. Peradaban Islam pada masa Utsman
bin Affan
1. Kodifikasi Al-Qur’an
Setelah
kaum muslim bersepakat membaiat Usman bin Affan sebagai khalifah ketiga setelah
Abu Bakar al-shiddiq r.a. dan Umar bin Khattab r.a. ketika ditinggalkan oleh
Umar bin Khattab, umat islam berada dalam keadaan yang makmur dan bahagia.
Kawasan dunia muslimpun telah bertambah luas. Khalifah Umar berhasil menciptakan
stabilitas sosial politik didalam negeri sehingga ia dapat membagi perhatiannya
untuk memperluas wilayah islam. Dan ketika Usman menjabat sebagai khalifah, ia
meneruskan sebagian besar garis politik Umar. Ia melakukan berbagai Ekspedisi
untuk mendapatkan wilayah-wilayah baru. Perluasan itu memunculkan situasi
sosial yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
Banyak
hal baru yang harus diantisipasi oleh penguasa muslim untuk menyatukan umat,
yang terdiri atas berbagai suku dan bangsa. Salah satu hal yang muncul akibat
perluasan wilayah islam adalah munculnya berbagai perbedaan qira’ah Al-qur’an.
Itu karena setiap daerah memiliki dialeg bahasa tersendiri, dan setiap kelompok
umat islam mengikuti qiroah para sahabat terkemuka. Sebagaimana diketahui ada
beberapa orang sahabat yang menjadi kiblat atau rujukan bagi kaum muslim
mengenai bacaan Al-qur’an. Dimasa Rosulullah dan dua khalifah sebelumnya keadaan
itu tidak menimbulkan permasalahan karena para sahabat bias mencari rujukan
yang pasti mengenai bacaan yang benar dan diterima. Namun seiring perubahan zaman dan perbedaan latar belakang
sosial budaya mayarakat islam, persoalan itu semakin meruncing dan berujung
pada persoalan aqidah. Sebagian kelompok umat menyalahkan kelompok lain karena
perbedaan gaya dan qiraah Al-qur’an. Bahkan mereka saling mendustkan,
menyalahkan bahkan mengkafirkan.
Kenyataan
itu mendorong usman untuk berijtihad melakukan sesuatu yang benar-benar baru.
Pada akhir 24 H awal 25 H, Usman mengumpulkan para sahabat lalu empat orang
diantara mereka menyusun mushaf yang akan menjadi rujukan umat islam. Keempat
kodifikasi panitia itu adalah para penghafal al-Qur’an yang telah dikenal baik
yaitu Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said ibn al-Ash dan Abdurrahman ibn
al-Harist ibn Hisyam. Panitia kodifikasi itu bekerja sangat cermat dan
hati-hati.mereka menghimpun berbagai qiraah yang ada ditengah umat kemudian
memilih salah satunya yang dianggap paling dipercaya. Mereka langsung
menuliskan dalam satu mushaf lafal atau bacaan yang disepakati bersama. Yang tersusun rapi dan sistematis. Panitia
kodifikasi Al-qur’an bekerja dengan cermat, teliti, dan hati-hati sehingga
menghasilkan sebuah mushaf. Sebetulnya karya itu bukan murni dilakukan khalifah
Usman, karena gagasan itu telah dirintis sejak kepemimpinan Abu Bakar dan
diteruskan khalifah Umar. Mushaf usmani itupun tuntas disusun dan mushaf-mushaf
lain yang berbeda dari mushaf utama itu diperintahkan untuk dibakar.
2. Renovasi Masjid Nabawi
Selain
mengkodifikasi Al-Qur’an, pada masa khalifah Utsman bin Affan juga dilaluka
perluasan Masjid Nabawi serta memperindah bentuk dan coraknya.
3. Pembentukan angkatan laut
Pada masa Khalifah
Utsman bin Affan dibentuk angkatan laut yang bertujuan untuk melindungi wilayah
Afrika dari serangan Romawi. Hal itu atas usulan dari Muawiyah bin Abu Sufyan
yang saat itu menjabat sebagai gubernur Suriah.
4. Perluasan dakwah islam
Pada masa Khalifah
Utsman bin Affan, dakwah islam semakin meluas. Wilayah Azerbaijan, dengan izin
Allah swt., menerima dakwah Islam dibawah pimpinan Said bin Ash dan Huzaifah
bin Yaman. Wilayah Armenia juga dapat diraih oleh dakwah di bawah pimpinan
Salman bin Rabi’ah al- Bahiy. Pada umumnya, mereka lebih suka berada di bawah
pemerintahan Islam daripada dikuasai kekaisaran Romawi.
E. Faktor yang menyebabkan munculnya
Fitnah Al-Kubra
Usman bin Affan
diangkat menjadi khalifah berumur 70 tahun melalui proses persetujuan dari
dewan majelis syuro yang bersama-sama membaiat khalifah Usman. Usman bin Affan
memiliki cara tersendiri dalam menjalankan pemerintahan dan memiliki karakter
yang berbeda dengan khalifah Umar bin Khattab yang terkenal dengan
ketegasannya. Sementara khalifah Usman terkenal dengan kelembutan dan belas
kasihnya kepada orang lain terlebih kepada keluarganya.
Apabila dicermati bahwa
kelembutan Usman bin Affan juga disebabkan umur beliau yang sudah lanjut.
Sangat menusiawi jika manusia yang sudah berumur memiliki sifat-sifat yang
mulia serta berkasih sayang terlebih kepada keluarganya serta butuh dukungan
dari orang-orang yang dekat kepada beliau.
Tentang keutamaan dan
sifat-sifat mulia Usman bin Affan tidak menghentikan langkah bagi orang-orang
yang tetap tidak suka dan ingin menggulingkan khalifah Usman. Ketidaksukaan
orang-orang ini disebut dengan fitnah al-Kubra yakni munculnya tuduhan miring
kepada Usman bin Affan sehingga muncul di kalangan umat ketidak percayaan
kepada khalifah serta muncul niat dan mosi tidak percaya kepada khalifah.
Menurut Murodi
munculnya fitnah al-Kubrayang berakhir dengan pemberontakan pada masa Usman bin
Affan adalah sebagai berikut:
1. Perbedaan karakter yang
dimiliki oleh Umar bin Khattab dan Usman bin Affan.
2. Visi politik Usman yang
memperbolehkan kaum muhajirin untuk keluar madinah yang pada masa khalifah Umar
hal ini dilarang.
3. Perubahan sosial dari
negara islam menjadi negara besar internasional, masyarakat semakin komplek
serta adanya generasi muslim baru, serta terjadinya pergulatan budaya dan
interaksi sosial yang mengakibatkan ambisi pribadi fanatisme kesukuan dan
golongan dan tidak patuh masyarakat kepada pemerintah.
4.
Merabaknya
kelompok saba’iyyah yang dimotori oleh Abdullah bin Saba’ ia merupakan yahudi
dari yaman dan sebagai otak dari berbagai kerusuhan dan fitnah dengan
menampilkan konsep “wasaya”.
F. Peristiwa terbunuhnya Utsman bin
Affan
Fitnah yang dilakukan
oleh orang-orang yang tidak suka kepada khalifah Utsman bin Affan semakin
tersebar diberbagai kota. Gagasan mosi tidak percaya kepada khalifah Utsman
semakin luas dan tidak pernah berhenti. Mereka mengajak seluruh kaum muslimin
untuk pergi ke Madinah menghadap kepada khalifah untuk menyampaikan mosi tidak
percaya kepada para pejabat yang diangkat oleh Utsman.
Jumlah para penyebar
fitnah sekitar 1000 orang mereka menyusun strategi dengan membagi menjadi
beberapa kelompok, tugas untuk meyebar fitnah di Mesir adalah Abdullah bin
Saba’ dan al-Ghifaqi bin Harb, di Kufah disebarkan oleh Amr bin Ashm dan Zaid
bin Shaujan Al-Abdi, di Basrah disebarkan oleh Harqus bin Zahir dan Hakim bi
Jabalah Al-Abdi.
Pada awalnya mereka
datang ke Madinah hanya ingin menyampaikan kepada Utsman bahwa mereka meminta
khalifah Utsman bin Affan mengganti gubernur dan pejabat yang menyeleweng,
setelah permintaan mereka dikabulkan oleh Utsman mereka kembali ke Mesir dengan
di komandoi oleh Muhammad bin Abu Bakr. Ditengah perjalanan mereka menemukan
surat yang diberi stempel atas nama Utsman bin Affan yang berisi perintah
kepada Gubernur Mesir untuk membunuh Muhammad bin Abu Bakr dan kaumnya. Surat
ini menjadi dasar bagi kemarahan para pemberontak dan mereka segera meminta
penjelasan kepada Utsman.
Sekembalinya dari
mereka ke Madinah, Muhammad bin Abu Bakr bertemu Ali bin Abi Thalib tentang
alasan mereka kembali kemudian Ali menjelaskan bahwa surat itu palsu. Namun
keadaan semakin gawat karena pemberontak Muhammad bin Abu Bakr segera menyerbu
rumah Utsman bin Affan. Pada saat itu Utsman berada di dalam rumah dan rumah beliau
dijaga oleh orang-orang Muhajirin dan Anshar berjumlah 700 orang. Utsman bin
Affan lantas menyampaikan nasehat kepada pemerontak tidak dibenarkan
mengalirkan darah seorang muslim, kecuali karena tiga alasan, kafir, berzina
dan membunuh.
Namun nasihat ini tidak
dihiraukan oleh kaum pemberontak sehingga mereka terus mengepung rumah Utsman
bin Affan selama 40 hari serta tetap bersikap kasar kepada Utsman bin Affan
kemudian pemberontak dapat masuk kerumah dan mendapati Utsman sedang dalam
membaca Al-Qur’an dan sedang berpuasa lalu mereka membunuh Utsman bin Affan
dengan kejam.
BAB III
PENUTUPAN
A. Kesimpulan
Khalifah Usman bin
Affan terpilih menjadi khalifah melalui proses musyawarah yang dilakukan oleh
dewan syura selanjutnya Usman bin Affan dibait untuk menjadi khalifah yang
ketiga. Masa kekhalifahan Usman bin Affan selama 12 tahun dalam menjalankan
pemerintahan Usman bin Affan melanjutkan cara-cara yang dilakukan oleh khalifah
Umar bin Khattab yakni memperluas daerah kekuasaan hingga sampai ke daerah
Cyprus, serta membentuk baitul al-Mal.
Peradaban pada masa khalifah Usman ditandai oleh perluasan daerah kekuasaan
dengan dibentuknya armada-armada laut yang handal sehingga dapat mengalahkan
kekuatan Romawi. Hal ini juga mengisyaratkan adanya teknologi yang dimiliki
pada saat itu cukup memadai dan sangat canggih. Selain itu peradaban ini tandai
dengan keahlian para penulis wahyu yang semakin banyak serta mampu menghimpun
Al-Qur’an dalam satu bentuk mushaf Usmaniyah. pada masa ini juga telah dikenal
pengesahan surat dengan menggunakan stempel.
B. Saran
Penulis telah berusaha
semaksimal mungkin dalam menyajikan makalah namun penulis sadari dalam makalah
ini masih dapat kekurangan dan perlu untuk diperbaiki lagi. Untuk itu penulis
mengharap saran dan kritik yang membangun agar dijadikan dasar dalam
menyempurnakan makalah ini. Atas saran dan kritik yang disampaikan diucapkan
terima kasih.
DAFTAR PUSTAKA
Murad, Musthafa. (2012).
Kisah Hidup Utsman Ibn Affan. Jakarta: Zaman
Syalabi, A. (2000).
Sejarah Dan Kebudayaan Islam Jilid I. Jakarta: PT Al- Husna Zikra
Hadi, Nur. (2012). Ayo
Mengkaji Sejarah Kebudayaan Islam untuk MA untuk Kelas XII. Erlangga
Comments
Post a Comment